StatusRAKYAT.com, Simalungun - Tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang sedang menjalankan penelitian lapangan tentang kosmologi ekologis Batak Toba di Lumban Ambarita Sihaporas turut hadir dalam kegiatan Penjaga Mimpi — sebuah forum berbagi cerita, karya, dan gagasan — yang berlangsung di Timothy Integrated Farm (TIF), Silau Malaha, Kecamatan Siantar, Kabupaten Simalungun, pada 22–23 Agustus 2026.
Kegiatan ini
digagas oleh Richard Ambarita, founder Timothy Integrated Farm,
yang akrab disapa Pak Timo. Selama ini, Richard membangun Timothy Integrated
Farm sebagai ruang untuk belajar tentang pertanian, alam, budaya, dan
kehidupan. Dalam konteks penelitian BRIN, Timothy Integrated Farm merupakan
ruang yang relevan secara ekologis: sebuah contoh nyata dari upaya membangun
hubungan manusia dengan alam secara berkelanjutan di wilayah Simalungun — yang
secara geografis berdekatan dengan komunitas adat Sihaporas yang menjadi subjek
penelitian.
Melalui Penjaga
Mimpi, ruang tersebut diperluas menjadi tempat bertemunya orang-orang dengan
latar belakang serta pengalaman yang beragam. "Mimpi tidak ditertawakan,
karya tidak diremehkan, dan cerita tidak dihakimi. Inilah semangat yang dibawa
dalam kegiatan," ujar Richard.
Salah satu
pembicara kunci yang hadir adalah Togu Simorangkir, aktivis lingkungan
dan penggiat literasi, pendiri Yayasan Alusi Tao Toba, yang telah lama
mengabdikan dirinya pada pendidikan dan pelestarian ekosistem Danau Toba. Togu
dikenal luas atas aksinya berjalan kaki selama 44 hari dari Makam Raja
Sisingamangaraja XII di Balige menuju Istana Negara Jakarta, sebagai bentuk
protes atas dugaan kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh aktivitas PT Toba
Pulp Lestari (TPL) di kawasan Danau Toba. Dalam forum ini, ia berbagi bukan
sekadar tentang apa yang telah dilakukannya, tetapi juga perjalanan hidup dan
mimpi yang masih ingin dikejar.
Turut hadir
sejumlah tokoh dari berbagai bidang: Jack Bandit Tattoo, yang
menceritakan perjalanan hidupnya melalui seni tato; serta Martahan Sitohang,
pendiri Sarune Art, yang berbagi cerita tentang perjalanannya bersama musik
tradisional dan kebudayaan di baliknya. Pegiat musik The Gerouts, De Merel, dan
Takasima juga tampil dalam kegiatan ini. Agnes Simamora dan Abeth Siahaan turut
memperkaya diskusi dari perspektif komunitas dan gerakan budaya akar rumput.
Bagi tim peneliti
BRIN, kehadiran dalam forum ini bukan sekadar kegiatan sampingan. Peserta tidak
hanya datang sebagai penonton — mereka diajak hadir sebagai diri sendiri dengan
membawa cerita, pengalaman, karya, atau sekadar mimpi yang ingin dibagikan. Semangat
keterbukaan ini justru paralel dengan pendekatan etnografi yang digunakan tim
BRIN dalam mendokumentasikan sastra lisan Masyarakat Adat Lumban Ambarita:
mendengarkan, hadir sepenuhnya, dan memberi ruang bagi suara yang selama ini
jarang terdengar. Pertemuan lintas komunitas ini memperkaya pemahaman tim
peneliti tentang bagaimana ekologi, budaya, dan literasi saling berkelindan
dalam kehidupan masyarakat di kawasan Danau Toba dan sekitarnya. (red)
Kontak
informasi penelitian:
Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)


