Kasus Kematian Asep Janggal: Pergi Bertiga, Pulang Tinggal Misteri, Motor Raib Dijual. -->
Cari Berita

Advertisement

Kasus Kematian Asep Janggal: Pergi Bertiga, Pulang Tinggal Misteri, Motor Raib Dijual.

18 April 2026

Asidi Jelaskan Kematian Asep Janggal Pergi Bertiga Pulang Tinggal Misteri, Motor Raib Dijual

StatusRAKYAT.com,Indramayu - Kasus kematian Asep warga Desa Jambe Kecamatan Kertasemaya, Kabupaten Indramayu, yang ditemukan di Sungai Rancajawat, Kecamatan Tukdana, terus memunculkan tanda tanya serius. Sejumlah kejanggalan mencuat, mulai dari kronologi kejadian hingga penanganan aparat penegak hukum yang dinilai belum transparan.

Ayah almarhum, Asidi, menjelaskan bahwa peristiwa bermula pada Jumat malam, saat korban baru pulang dari kegiatan training di Cirebon. Sekitar pukul 23.00 WIB, seorang pria berinisial D mendatangi rumah Asep.
“Selang beberapa jam, tepatnya Sabtu dini hari sekitar pukul 03.00 WIB, I datang lagi dan mengajak Asep pergi bersama dua orang lainnya,” ujar Asidi.

Sejak saat itu, korban tidak pernah kembali. Ironisnya, ketiga orang tersebut diketahui mengenal rumah korban, namun hingga kini tidak ada satu pun yang memberikan informasi kepada keluarga terkait apa yang sebenarnya terjadi.

“Kalau mereka tahu rumah saya, kenapa tidak kasih tahu? Ini yang saya sesalkan,” tegas Asidi.

Kejanggalan semakin menguat setelah terungkap bahwa pada tanggal 24, pasca kejadian, sepeda motor milik Asep justru dibawa oleh D ke kontrakannya di Kota Cirebon. Motor tersebut kemudian dijual menjelang pergantian tahun melalui sistem COD. Saat transaksi berlangsung, mereka disebut datang bertiga.

Fakta ini memunculkan dugaan adanya motif penguasaan barang milik korban.
Di sisi lain, muncul pernyataan yang menyebut adanya rencana pembegalan. Namun keterangan tersebut dinilai tidak konsisten. Pasalnya, ada versi lain yang menyebut korban hanya diajak jalan-jalan ke Sumedang.

“Kalau anak saya dituduh begal, mana korbannya? Mana saksinya? Jangan main menghakimi,” ujar Asidi.

Ia bahkan menduga adanya kemungkinan tindak pidana berat di balik kematian anaknya.

“Jangan-jangan anak saya ini dibunuh karena motornya ingin dikuasai,” ungkapnya.

Sementara itu Asidi juga mengatakan," dari keterangan aparat Polsek Tukdana, salah satu terduga berinisial Danil disebut mengaku memiliki pengalaman terkait aksi pembegalan. Namun, tidak ada penjelasan tegas mengenai keterlibatan Asep dalam dugaan tersebut," jelasnya.

Asidi menambahkan, Keluarga pun mempertanyakan keputusan aparat yang tidak menahan dua orang lainnya yang diketahui bersama korban saat kejadian.

“Kalau ada pengakuan seperti itu, kenapa yang lain dilepas? Ini tidak adil. Anak saya sudah meninggal,” kata Asidi dengan nada kecewa.

Selain itu, hingga kini tidak pernah diungkap siapa korban pembegalan yang dimaksud. Sejumlah saksi yang dinilai penting juga disebut belum dimintai keterangan secara maksimal.

Bahkan, saat keluarga menanyakan keberadaan motor korban, jawaban yang diberikan aparat dinilai tidak relevan dan terkesan menghindari pokok persoalan.

Rangkaian kejanggalan ini membuat keluarga semakin yakin bahwa kasus kematian Asep belum diungkap secara terang benderang. Mereka mendesak aparat penegak hukum untuk bekerja profesional, transparan, dan tidak terburu-buru menyimpulkan tanpa bukti yang jelas.

Keluarga juga membuka kemungkinan menempuh langkah hukum lebih lanjut, termasuk melaporkan penanganan kasus ini ke tingkat yang lebih tinggi demi mendapatkan keadilan. (Mutadi)