Umat Merindukan Ulama yang Tidak Bisa Dibeli -->
Cari Berita
TUTUP [X]
Contoh Iklan

Advertisement

Umat Merindukan Ulama yang Tidak Bisa Dibeli

18 September 2026



Oleh : Hadi JJoyo Cakti 234 NK Si Macan Putih

StatusRAKYAT.com,Indramayu – Umat tidak sedang kekurangan orang yang pandai berbicara tentang agama. Yang semakin dirindukan adalah ulama yang berani berbicara ketika kebenaran sedang ditekan, keadilan dipertanyakan, dan suara masyarakat kecil mulai tidak terdengar.
Di tengah berbagai persoalan bangsa, umat membutuhkan ulama yang tidak hanya fasih menyampaikan nasihat di mimbar, tetapi juga berani berdiri ketika nilai-nilai kebenaran sedang diuji.

Sebab ilmu agama bukan sekadar pengetahuan. Di dalamnya terdapat amanah.
Seorang ulama memiliki posisi moral yang sangat penting di tengah masyarakat. Karena itu, ketika ada ketidakadilan, penyimpangan, atau tindakan yang merugikan masyarakat, suara ulama semestinya dapat menjadi pengingat bagi siapa pun, tanpa memandang jabatan, kekuasaan, kekayaan, maupun kepentingan kelompok.

Umat tentu merindukan ulama yang suaranya tidak mudah dipengaruhi oleh jabatan, harta, popularitas, atau kepentingan politik.

Bukan berarti ulama harus memusuhi penguasa atau menjauh dari pemerintah. Justru ulama dapat menjadi mitra moral yang memberikan nasihat ketika kebijakan berjalan benar dan memberikan teguran ketika terdapat persoalan yang perlu diperbaiki.

Ulama bukan alat kekuasaan. Ulama juga bukan corong kepentingan.
Ketika suara ulama terlalu dekat dengan kepentingan tertentu, masyarakat dapat mempertanyakan independensi nasihat yang disampaikan. Sebaliknya, ketika ulama mampu menjaga jarak dari kepentingan pribadi dan kelompok, suara yang lahir akan lebih mudah dipercaya sebagai suara moral.
Yang dibutuhkan umat bukan suara yang keras semata, melainkan suara yang jujur.
Bukan keberanian untuk menyerang seseorang, tetapi keberanian untuk mengatakan benar sebagai benar dan salah sebagai salah.

Bukan pula keberanian yang muncul ketika berada di tengah banyak pendukung, tetapi keberanian untuk tetap memegang prinsip meskipun harus berdiri sendirian.
Sejarah mengajarkan bahwa suara kebenaran tidak selalu datang dari mereka yang memiliki kekuasaan. Tidak jarang, suara moral justru muncul dari orang-orang yang memilih mempertahankan prinsip ketika berbagai kepentingan mencoba menariknya ke arah lain.

Karena itu, kehormatan ulama tidak semestinya diukur dari seberapa dekat ia dengan penguasa, seberapa banyak pejabat yang hadir dalam acaranya, atau seberapa tinggi popularitasnya.

Kehormatan ulama terletak pada integritas ilmu, ketulusan dakwah, dan keberanian menjaga amanah.

Umat membutuhkan ulama yang mampu menjadi tempat bertanya ketika masyarakat bingung, menjadi pengingat ketika penguasa lupa, dan menjadi pembela ketika masyarakat lemah membutuhkan keadilan.
Sebab ketika suara kebenaran dapat dibeli, yang kehilangan bukan hanya ulama, tetapi seluruh umat.

Namun ketika suara kebenaran tetap tegak dan tidak dapat dibeli oleh apa pun, di situlah ulama benar-benar menjadi cahaya bagi masyarakat.

Umat tidak membutuhkan suara yang bisa dibeli. Umat membutuhkan suara yang bisa dipercaya.

Dan suara yang dapat dipercaya lahir dari hati yang merdeka, ilmu yang amanah, serta keberanian untuk berdiri di atas kebenaran dan keadilan. (Mutadi)